Kamis, 16 April 2015

Pelakon Lagu Balonku Ada 5

Bismillah...

Really, hari ini benar-benar aneh, perasaan saya seperti pemeran lagu Balonku Ada 5, yang hatinya kacau karena balonnya 1 meletus. Rintik hujan ikut jadi saksi kegalauan yang menyergap tiba-tiba.
Entah, menjalani hal ini bukan pertama kalinya, tetapi perasaan yang muncul barusan separah ini. Hanya kepada Rabbku kugantungkan hatiku. Di jemariNya lah segala urusan....

Speechless...
Just can say,


"Pada akhirnya, pilihan Allah adalah segalanya. Adapun kita, hanya bisa berikhtiyar. Tidak ada yang lebih membahagiakan bagi seorang mukmin melebihi keridhoan Rabbnya, dan keridhoannya terhadap apa yang ditetapkan Rabbnya untuknya."

Rabu, 07 Januari 2015

Kepada Rinai Kubercerita

Wahai rinai, Izinkan aku bertutur
Pada rintikmu yang sendu menyejukkan
Pada gemericikmu, yang memanggil rindu
Pada pandangmu yang lekat kepadaku

Aku...
Dengan asa yang mengangkasa
Telah kubahasakan ke langit
Yang tunduk berdzikir pada pekat malam
Tentang cahaya yang tak ingin kupadamkan
Bahkan tak rela jika ia meredup

Biar sepi menemani
Tak mengapa...asal cahaya itu berkunang
Berpendar-pendar menari
Setidaknya itu menjadi penghibur diri

Sekelebat tanya pun mengutas bak tali
Akankah kudapat menjaganya?
Ah...aku tau aku tak bisa
Itu di luar sanggupku
Kecuali kupinta kepadaNya,
Sang Pemberi Cahaya

Nuur...itulah iman
Yang ku tak ingin kehilangan bahkan jauh darinya
Yaa Allah...pintaku
Hidupkan dan matikan aku di atasnya
Istiqomah...itulah hadiah terindah yang kuharap

Selasa, 06 Januari 2015

Bersamamu, Aku...

Sejujurnya...
Aku sangat tau rasa ini tak layak berada di sini
Bayang yang tak pantas dimimipi
Nama yang tak layak kupatri
Namun dia datang bertamu pada lamunan yang tadinya beku
Tiba-tiba, jiwa tergerak, mencari sosoknya
Yang telah lama luput dari ingatan
Meski memang berusaha kutenggelamkan di kedalaman samudera
Atau kuhempaskan bersama ombak yang menerjang karang

Lalu...kenapa kembali? Di saat aku berusaha terbangun
Impian-impian kembali terajut
Tuk bersama melukis pada awan yang berarak
Tuk bersama berjalan di atas lengkung pelangi
Tuk bersama memandangi rona kemuning senja
Tuk saling berkisah tentang kita di masa lalu

Ah, ilusi...
Lagipula...pohon harapan telah menggugurkan dedaunnya
Menanti musim semi yang kan memekarkan pucuknya
Mungkin, harapan harus kusimpan saja untuk diriku
Bersama dia yang tertulis di sana
Yang tak pernah kutahu siapa...
Tapi aku yakin, itu akan menjadi kejutan
Ketika nanti ku terjaga...
Semoga

Rabu, 24 September 2014

Muhammad, aku merindukanmu Nak...

Bismillah...
Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam

Muhammad, tentu nama ini tak asing, ini adalah nama seorang yang paling layak kita cintai ketika ternyata kita adalah seorang pecinta.
Penghulu para rasul, yang diutus kepada segenap manusia.
Tak heran bila kita jumpai di buku-buku yang memuat orang-orang yang paling berpengaruh di dunia, nama beliau berada di urutan pertama.
Bahkan dalam buku-buku karya orang non muslim.

Muhammad, sejak 2007 atau 2008 silam, aku mengambil nama itu sebagai kunyah. Setelah mengetahui bahwa kunyah adalah satu diantara sunnah sang Rasul shallallahu 'alayhi wasallam. Sehingga jadilah namaku Ummu Muhammad. Dengan harapan kepada Allah, semoga anakku kelak bisa menjadi pengikut sejati beliau. Berakhlak dengan akhlak beliau.

Muhammad...
Aku merindukan hadirnya meski aku tak tau kapan kiranya ia wujud di hadapku. Tengadah doa tentu tak henti kupanjat, semoga ia hadir esok menemani hari-hariku, penyejuk mata dan hatiku. Memanggilku dengan seruan "ummi...."
Yaa Allah, sungguh aku malu menulis baris demi baris tulisan ini. Terlalu malu tuk mengakui bahwa, yaaa... aku rindu.

Apalagi tak henti terbaca di depan mataku, hadits tentang amal yang tak terputus setelah meninggal
Doa anak shalih untuk orang tuanya.

Derai air mata tak cukup melukiskan rindu ini...
Gelak tawa dan canda tak cukup tuk tutupi rasa ini
Bersedih, kecewa, karena rupanya aku belum cukup pantas dipertemukan dengannya, Muhammad...
Tetapi, walau tak menemuinya di dunia ini, aku lebih berharap bertemu dengan Muhammad yang akan menyeru dengan seruan "ummatiy...ummatiy...."
Di sanalah cinta dan rindu bermuara
Melenyapkan segala gusar dan kesengsaraan
Bertemu dengan Dzat yang paling dicinta, dan orang yang paling dicintaiNya...

Semoga Allah mengumpulkan kita di Jannah Firdaus al a'la.

Selasa, 15 Juli 2014

Predikat itu...

Alhamdulillah...
Pengumuman nilai semester kemarin berlalu juga, dan alhamdulillah, saya masih menempati urutan pertama di kelas. Ini bukan sesuatu yg pantas untuk dibanggakan, karena penentuan nilai ini terlalu subjektif. Dengan seyakin-yakinnya, saya bilang tidak pantas bagi saya di urutan itu jika penilaiannya sedikit objektif. Sekali lagi, tak layak dibanggakan, tp sangat tepat untuk disyukuri.
Teman-teman memberi ucapan selamat atas predikat mumtazah ula yang masih disandangkan pada saya. Dalam hati saya tertawa kecut, karena ada predikat yang lebih kuinginkan dari sekedar prestasi akademik.
Yah, predikat seorang ibu...
Itulah yang kurindukan. Kadang terbesit rasa iri kepada teman-teman yang bahkan sudah punya 3 anak. Apalagi jika anaknya benar2 dididik secara islamy. Diajarkan shalat, mengaji, menghafal, dll. Benar2 hal yang rindu untuk kulakukan.
Apalagi tanya selalu menghampiri, kalau saya meninggal, siapa yang akan mendoakan? Saya juga ingin memiliki anak shalih yang kelak menjadi investasi akhirat.
Lalu, su'udzhan pun menjadi musuh yang harus saya hadapi. Yah, su'udzhan kepada Allah, membuang semua pikiran yang bisa membawaku ke sana. Kapan, kenapa, ah.... benar2 kata tanya yang harus kusingkirkan.
Saya tidak mau jatuh pada lembah keputus asaan.
Yang bisa kulakukan hanya mencari tau sebab semua ini, dan berapa kali pun kucari, jawabanku selalu sama. "Ini salahku, pasti ini dampak maksiat dan dosa2ku".
Dan solusinya, tentu ishlahunnafs. Sampai saat ini, itu harus terus dilakukan, dengan penuh harap dan husnudzhan kepada Allah, bahwa Dia-lah sutradara dari sandiwara langit yang kuperankan. Dan tak pernah ada yang lebih mengetahui dariNya. Wallahu a'lam bisshowab.