Alhamdulillah...
Pengumuman nilai semester kemarin berlalu juga, dan alhamdulillah, saya masih menempati urutan pertama di kelas. Ini bukan sesuatu yg pantas untuk dibanggakan, karena penentuan nilai ini terlalu subjektif. Dengan seyakin-yakinnya, saya bilang tidak pantas bagi saya di urutan itu jika penilaiannya sedikit objektif. Sekali lagi, tak layak dibanggakan, tp sangat tepat untuk disyukuri.
Teman-teman memberi ucapan selamat atas predikat mumtazah ula yang masih disandangkan pada saya. Dalam hati saya tertawa kecut, karena ada predikat yang lebih kuinginkan dari sekedar prestasi akademik.
Yah, predikat seorang ibu...
Itulah yang kurindukan. Kadang terbesit rasa iri kepada teman-teman yang bahkan sudah punya 3 anak. Apalagi jika anaknya benar2 dididik secara islamy. Diajarkan shalat, mengaji, menghafal, dll. Benar2 hal yang rindu untuk kulakukan.
Apalagi tanya selalu menghampiri, kalau saya meninggal, siapa yang akan mendoakan? Saya juga ingin memiliki anak shalih yang kelak menjadi investasi akhirat.
Lalu, su'udzhan pun menjadi musuh yang harus saya hadapi. Yah, su'udzhan kepada Allah, membuang semua pikiran yang bisa membawaku ke sana. Kapan, kenapa, ah.... benar2 kata tanya yang harus kusingkirkan.
Saya tidak mau jatuh pada lembah keputus asaan.
Yang bisa kulakukan hanya mencari tau sebab semua ini, dan berapa kali pun kucari, jawabanku selalu sama. "Ini salahku, pasti ini dampak maksiat dan dosa2ku".
Dan solusinya, tentu ishlahunnafs. Sampai saat ini, itu harus terus dilakukan, dengan penuh harap dan husnudzhan kepada Allah, bahwa Dia-lah sutradara dari sandiwara langit yang kuperankan. Dan tak pernah ada yang lebih mengetahui dariNya. Wallahu a'lam bisshowab.
Pindahkan cinta di hatimu ke mana saja kamu suka… Tetapi cinta sesungguhnya hanyalah untuk kekasih pertama… Berapa banyak tempat di bumi yang disinggahi pemuda… Namun kerinduannya senantiasa untuk rumah pertama….*
Selasa, 15 Juli 2014
Predikat itu...
Rabu, 19 Maret 2014
Untuk Seorang Sahabat...
Kawan...pernah di suatu hari engkau mengataiku "perawan tua", hatiku terusik, meski benar, tapi ku tak ingin gelar itu keluar dari lisanmu...
Kawan...saban hari engkau menasehatiku... wanita itu punya keterbatasan, setiap bertambah usianya, akan semakin melemah kekuatan rahimnya...maka cepatlah menikah
Kawan...di lain waktu engkau menyuruhku cepat menyelesaikan studi dan menikah, agar tak perlu bekerja di luar rumah
Kawan...kemarin engkau bilang lagi, nikahkanlah adikmu....cukup engkau saja yg jadi perawan tua
Tapi...setelah itu engkau berkata, tenang kawan, tak usah risau...jangan bersedih, karena seseorang jika tak menikah di dunia, masih bisa ia menikah di surga. Yang penting kita menjalani hidup dengan mematuhi segala perintah Allah dan menjauhi laranganNya...
Betulll...yang penting...kita bisa masuk surga dulu...
Akhirnya kutau, semua sindiranmu, nasehat pedasmu, itu adalah motivasi bagiku...bukan utk merendahkanku...
Hidup tak sesederhana apa yang kita bayangkan...jangan tinggal terpaku, berjalanlah di jalan yang lurus, jangan menoleh, jangan berbalik, dan jangan berbelok jika tak ada perintah utk itu...
Al hayaatu tastamir...hidup terus berjalan...usah bersedih, atas apa yg belum ditakdirkan. Cukup syukuri nikmat lain yang sering engkau lalai memperhatikannya...
Kawan...terimakasih...engkau kan terus menjadi kawanku, meski kau tak pernah merasa aku ini kawanmu...
Banyak belajar darimu, menjadi pribadi yang belajar tegar si atas kerapuhan, kuat di atas kedhaifan....
Kawan...semoga Allah menjagamu, keluargamu, dan membalas semua kebaikanmu dengan kebaikan yang lebih besar...
Sabtu, 16 Februari 2013
Kajian Online VS Offline
Minggu, 15 Juli 2012
"DIA" di Mata Manusia
Rabu, 04 Juli 2012
Serambi Madinahku
Dari judul, mungkin pembaca bertanya-tanya, apa maksudnya? Yang selama ini familiar di telinga adalah Serambi Makkah, julukan untuk sebuah propinisi di barat Indonesia. Tapi wallohu a'lam, saya lupa sejak kapan saya menjuluki Kota Makassar sebagai Kota Serambi Madinah. Tidak ada alasan lain bagi saya menjadikan itu sebagai julukan melainkan karena saya sangat senang dengan semaraknya majelis 'ilmu di kota tersebut. 
