Tampilkan postingan dengan label cinta. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cinta. Tampilkan semua postingan

Selasa, 24 Desember 2013

Syair Cinta

ولا تسألني عن وطني فقد اقمته بين يديك ولا تسألني عن اسمي فقد نسيته عندما احببتك

Jangan kau tanya tanah airku, karena telah ku letakkan di hadapanmu.. jangan kau tanya namaku, karena aku telah lupa sejak mencintaimu..

احبك ..فكم تبقى من عمري ساعيشه بحبك؟

aku mencintaimu.. maka berapa banyak harus kuhabiskan umurku agar bisa hidup mencintaimu..

وكم تبقى من ليالي كي احلم بك فيه
Berapa banyak malam yang kulewati agar dapat memimpikanmu?

وكم سنة يجب ان اناديك كي تسمع نداءي ؟
Berapa tahun ku harus memanggilmu agak kau mendengar suaraku?

وكم سنة يجب ان ابكي كي تدرك حجم المي ؟
Berapa tahun ku harus menangis agar kau menyadari besarnya penderitaanku?

لماذا بين يدي ويديك سرب من الاسلاك لماذا حين اكون انا هنا تكوني انتي هناك

Mengapa tanganku dan tanganmu seperti terikat tali.. dan mengapa kau selalu ada dimanapun ku berada..

ربما يبيع الانسان شيئا قد شراه لكن لا يبيع قلباً قد هواه

barangkali manusia bisa menjual sesuatu yang telah dibeli.. namun ia tak dapat menjual hati yang ia cintai

untukmu kekasih hatiku.. tidaklah aku melihatmu kecuali kebahagiaan menghiasiku.. hiasilah hidupku dengan cintamu.. maka kan ku beri cinta yang lebih dari itu..

Beberapa syair dinukil dari “syair cinta dan rindu”, Hamsyah Sahr beberapa yang lain dari berbagai sumber.

Senin, 17 Juni 2013

"Kami Saling Mencintai"

Bismillah. Alhamdulillah hamdan katsiran thoyyiban mubarokan fiihi. Assholatu wassalamu 'ala Rasulillah wa 'ala alihi wa shahbihi wa man wala'.

Sekilas melirik judul tulisan ini, mungkin biasa saja. Memang akan sangat biasa dijumpai dalam berbagai tulisan, terutama novel-novel, roman picisan, dan bahkan ungkapan ini kerap terdengar dari media-media seperti radio maupun TV. Entahkah itu drama percintaan, sinetron-sinetron, dsb. 
Well, sebenarnya tidak ada masalah dengan ungkapannya. Tetapi yang menjadi masalah adalah momen diungkapkannya.

Kamis, 13 Juni 2013

Memilikimu

Saya mencintai sunset, 
menatap kaki langit, ombak berdebum
Tapi saya tidak akan pernah membawa pulang matahari ke rumah, 
Walaupun itu bisa dilakukan, tetap tidak akan saya lakukan

Saya menyukai bulan,
entah itu sabit, purnama, tergantung di langit sana
Tapi saya tidak akan memasukkannya dalam ransel,
kalaupun itu mudah dilakukan, tetap tidak akan saya lakukan

Ukhty....Dia Adalah Suami Orang....

Bismillahirrahmanirrahim.


Assalamu’alaykum warahmatullahi wabarakatuh yaa akhowat fillah.

Catatan singkat untuk kita. Ini tetap menjadi nasehat untuk diri pribadi.
Fenomena facebook, ”sekiranya engkau sudah tau bahwa itu adalah suami orang, kenapa pula masih suka berkomunikasi hingga bersenda gurau dengan suami orang”

Ada yang mengatakan bahwa cinta itu buta. Benarkah?  
Ada yang mengatakan bahwa cinta itu anugrah. Benarkah?
Ada pula yang mengatakan bahwa cinta itu dari mata turun ke hati. Benarkah?
Ada juga yang mengatakan bahwa cinta itu rela berkorban, suci, saling menerima kekurang . . . . .bla,,bla,,bla,,

Ketika Cinta Bertepuk Sebelah Tangan



عَنْ عِكْرِمَةَ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ أَنَّ زَوْجَ بَرِيرَةَ كَانَ عَبْدًا يُقَالُ لَهُ مُغِيثٌ كَأَنِّى أَنْظُرُ إِلَيْهِ يَطُوفُ خَلْفَهَا يَبْكِى ، وَدُمُوعُهُ تَسِيلُ عَلَى لِحْيَتِهِ ، فَقَالَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – لِعَبَّاسٍ « يَا عَبَّاسُ أَلاَ تَعْجَبُ مِنْ حُبِّ مُغِيثٍ بَرِيرَةَ ، وَمِنْ بُغْضِ بَرِيرَةَ مُغِيثًا » . فَقَالَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – « لَوْ رَاجَعْتِهِ » . قَالَتْ يَا رَسُولَ اللَّهِ تَأْمُرُنِى قَالَ « إِنَّمَا أَنَا أَشْفَعُ » . قَالَتْ لاَ حَاجَةَ لِى فِيهِ

Dari Ikrimah dari Ibnu Abbas sesungguhnya suami Barirah adalah seorang budak yang bernama Mughits. Aku ingat bagaimana Mughits mengikuti Barirah kemana dia pergi sambil menangis (karen“Wahai Abbas, tidakkah engkau heran betapa besar rasa cinta Mughits kepada Barirah namun betapa besar pula kebencian Barirah kepada Mughits.” Nabi bersabda kepada Barirah, “Andai engkau mau kembali kepada Mughits?!” Barirah mengatakan, “Wahai Rasulullah, apakah engkau memerintahkanku?” Nabi bersabda, “Aku hanya ingin menjadi perantara.” Barirah mengatakan, “Aku sudah tidak lagi membutuhkannya” (HR. Bukhari no. 5283)

Senin, 30 Juli 2012

Raudhah Al Muhibbin


Kubisikan padamu:

"...taukah engkau ttg cinta lama??

Ia bagaikan secercah cahaya yang diam terpaku di sudut ruang hati..
Ia menggema namun tanpa suara..
Lama tertidur oleh waktu..


Rabu, 18 Juli 2012

Dengarlah Suara Hatiku

"Sebaik-baik wanita ialah yang tidak memandang dan tidak dipandang oleh lelaki."

Aku tidak ingin dipandang cantik oleh lelaki. Biarlah aku hanya cantik di matamu. Apa gunanya aku menjadi perhatian lelaki andai murka Allah ada di situ.

Apalah gunanya aku menjadi idaman banyak lelaki sedangkan aku hanya bisa menjadi milikmu seorang.
Aku tidak merasa bangga menjadi rebutan lelaki bahkan aku merasa terhina diperlakukan sebegitu seolah-olah aku ini barang yang bisa dimiliki sesuka hati.

Selasa, 17 Juli 2012

Karena Aku Akhwat, Maka Kudamba Ikhwan


Bismillah
Saya tiba-tiba ingat saja pesan Syaikh Dr. Isa Al Masylami hafidzhahullah di penghujung ta’lim beberapa pekan lalu. Beliau mengatakan, “Hendaknya ikhwan tidak menikah kecuali dengan akhwat, dan hendaknya akhwat tidak menikah kecuali dengan ikhwan”.
Jika dilihat dari realita di lapangan, memang ini sudah menjadi sesuatu yang dicitakan setiap akhwat dan ikhwan. Sebenarnya, setiap muslimah adalah akhwat, dan setiap muslim adalah ikhwan (mengalami penyempitan makna dalam bahasa Indonesia).
Akan tetapi, maksud saya “akhwat” di sini adalah muslimah yang agak beda dari biasanya. Lebih eksklusif (positif), langka, mahal, dan tidak sembarangan. Sifat itu hadir karena dari suluknya yang senantiasa tertutup rapat hijab, dan di jiwanya ada kerinduan yang besar terhadap akhirat. Kesenangannya bukan berada di keramaian, melainkan di taman-taman surga. Malamnya bukan untuk menongkrongi kotak ajaib bernama TV, melainkan dihiasi sujud dan istighfar kepada Rabbnya. Bacaan kesukaannya bukan buku Teori Relativitas Einstein, Giancoli, Tipler, atau semacamnya, melainkan Kitabullah. Tapi anda jangan membayangkan akhwat itu seorang bidadari yang luput dari cela dan hina. Dengan mata laksana yaqut, kulit bening, dan segala kelebihan yang Allah dan rasuNya sifatkan dalam Kitabullah dan Sunnah. Mereka hanya wanita akhir zaman yang senantiasa berusaha menambatkan hati pada sebuah buhul yang dengannya ia akan selamat dan berbahagia hingga menemui Sang Terkasih, Allah Azza wa Jalla. 

Adapun “ikhwan” yang saya maksud adalah, lelaki muslim yang dunia hanya dia letakkan di tangan sedang akhirat memenuhi hatinya. Lelaki yang suluknya senantiasa bertasyabbuh terhadap Rasulullah yang mulia, populernya, celana cingkrang dan janggut yang bertengger di dagu. Jiwanya selalu merindu Jannah, sehingga anggota tubuhnya pun tidak pernah dia relakan untuk bermaksiat. Idolanya bukan Christian Ronaldo, Messi, atau Mesut Ozil, melainkan Rasul terakhir penyempurna risalah. Hatinya tepaut di masjid dan wajahnya bercahaya karena air wudhu. Tapi, anda jangan membayangkan ikhwan adalah seorang malaikat, yang tak pernah jatuh pada kesalahan. Mereka hanyalah lelaki akhir zaman yang berusaha meniti jalan berduri dengan segenap kehati-hatian demi mengobat kerinduannya tuk memandang wajah Kekasihnya, Allah Rabbul ‘Izzati.
Akhwat, dengan segala idealisme yang dia pancangkan dalam dirinya, dia tetap hanya wanita biasa. Penuh cela dan aib. Dia diciptakan dengan naluri feminine-nya, dengan kelemahan, kekurangan dari sisi dien dan akal, dan tentu saja keinginan untuk menikah.
Di dunia ini, tentu jarang diantara muslimah yang tidak ingin menikah. Bahkan sebuah kehinaan dan keharoman bagi mereka jika mereka menginginkan menjadi rahib, karena itu bukan syariat Islam.
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
وَأَتَزَوَّجُ النِّسَاءَ فَمَنْ رَغِبَ عَنْ سُنَّتِي فَلَيْسَ مِنِّي

“Dan aku pun menikahi wanita. Barangsiapa yang membenci sunnahku, maka dia bukan termasuk golonganku.” (HR. Al-Bukhari dalam Shahih-nya no. 5063 dan Muslim dalam Shahih-nya no. 1401, penggalan dari hadits Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu)

Mereka membutuhkan pasangan hidup dari jenisnya sendiri, sebagaimana apa yang Allah firmankan dalam QS. Ar Ruum:21 yang artinya,
“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.” (QS. 30:21)
Di sini, saya tidak akan mengemukakan dalil-dalil tentang nikah. Dari sudut pandang seorang akhwat, saya hanya ingin menyampaikan bahwa Rasulullah senantiasa mengajarkan bagaimana kita memilih pasangan. Bagi seorang wanita muslimah, hanya ada dua syarat bagi seorang lelaki yang layak untuk dijadikan suami. Yakni yang baik agama dan akhlaknya. 
Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu mengabarkan bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam pernah bersabda:
إِذَا خَطَبَ إِلَيْكُمْ مَنْ تَرْضَوْنَ دِيْنَهُ وَخُلُقَهُ فَزَوِّجُوْهُ، إِلاَّ تَفْعَلُوا تَكُنْ فِتْنَةٌ فِي اْلأَرْضِ وَفَسَادٌ عَرِيْضٌ

“Apabila seseorang yang kalian ridhai agama dan akhlaknya datang kepada kalian untuk meminang wanita kalian, maka hendaknya kalian menikahkan orang tersebut dengan wanita kalian. Bila kalian tidak melakukannya niscaya akan terjadi fitnah di bumi dan kerusakan yang besar.” (HR. At-Tirmidzi no. 1084, dihasankan Al-Imam Al- Albani rahimahullahu dalam Al-Irwa’ no. 1868, Ash-Shahihah no. 1022)

Tentu saja, itu tidak kita harapkan dari pemuda-pemuda yang senang berkeliaran di jalan-jalan, mengumbar pandangan, pecandu khamr, dan lain sebagainya. Ingatlah bahwa keinginan menikah bukan sekedar naluri manusiawi, melainkan sebuah mata rantai perjuangan. Karenanya, seorang akhwat bahkan wanita awwam pasti menginginkan lelaki yang bisa menjadi imam dalam rumahtangganya, yang mampu mentarbiyah keluarganya menjadi orang-orang yang bertaqwa. Tapi bagaimana dan dimanakah akhwat bisa mendapatkan lelaki berlabel “ikhwan”? Dia sudah barang tentu bisa mendapatkannya lewat ikhtiyar dan tawakkal kepada Rabbnya. Senantiasa memperbaiki diri, mengirim do’a-do’anya di keheningan malam, dan menyerahkan segala urusannya kepada Allah. 
Tapi dimana??? Maka kita tunggu saja jawaban Allah atas do’a-do’a tersebut. Yang pasti, bukan di jalanan, pasar-pasar, dsb. Melainkan (mudah-mudahan saja) di masjid-masjid yang di dalamnya mereka sibuk berinteraksi dengan Allah. Saya jadi ingat, ketika teman se-kost saya waktu kuliah sering melantunkan nasyid, “Dimana dicari pemuda kahfi?” Kemudian dia jawab sendiri, “Di Ulil Albab.” Hehe, geli juga kalau dengar potongan nasyid yang dia lantunkan, tapi itu mungkin lahir karena keinginannya mendapat seorang pendamping yang hatinya terpaut di masjid. Dulu nama masjid di kampus kami itu “Ulil Albab”, yang memang kalo berada di sana, kita akan banyak mendengarkan lantunan Al Qur’an dari “makhluk asing” di balik hijab apalagi di waktu-waktu istirahat kuliah, dan sorenya, masjid akan terisi oleh orang-orang yang duduk bermajelis ilmu.
Jadi, bukan sebuah kelegalan bagi seorang akhwat untuk mencari pendamping hidup lewat dunia lain (baca:dunia maya) dengan cara yang bathil. Sebagaimana yang santer saat ini. Menilai kualitas ikhwan dari postingan-postingan di FB yang sejatinya hanya hasil copas punya orang, kemudian add jadi teman, ngajak kenalan, berinteraksi intens tanpa udzur syar’i, dan akhirnya menyampaikan niat –semoga Allah mengampuni kita dan menjauhkan kita dari hal semacam ini-. Jika memang niatnya shahih, tempuhlah cara yang shahih. Karena tidak cukup dengan niat saja. Carilah perantara yang bisa membantu dan ditsiqohi. Walaupun saya berbicara dari sudut pandang akhwat, tapi yang saya maksud di atas adalah bagi akhwat maupun ikhwan. Mencari jodoh lewat dunia maya lebih banyak mudharat daripada manfaatnya. Khawatirlah dengan keshalihan yang maya. Keshalihan yang anda ukur hanya dari tulisan-tulisannya, status-status, komen-komen, dan sebagainya. 
Wahai akhwat, carilah ikhwan, ikhwan sejati. Bukan ikhwan jadi-jadian. Di FB lagak ikhwan, di dunia nyata ternyata preman. Begitupula ikhwan, carilah seorang akhwat, akhwat sejati. Jangan tertipu dengan foto profil bercadar, atau paras yang jelita. Karena itu bukan kesejatian. Yang sejati itu hanyalah ketaqwaan, yang tak akan mampu anda ukur dari dzhahir semata.
Karena aku akhwat, maka kudamba ikhwan
Walau ku bukan akhwat sejati, namun siapa yang tak damba ikhwan sejati?
Karena anda ikhwan, maka dambalah akhwat
Walau ku tak tahu andakah ikhwan sejati itu, namun kuharap dekatkanlah
Karena aku bukanlah bidadari, dan anda bukanlah malaikat
Jadi bantulah aku dekati sempurna, walau kesempurnaan bukanlah milik kita
Bantulah aku meraih derajat taqwa
Bantulah aku menjadi wanita yang dicemburui bidadari
Aku akan merasa cukup, dengan kehadiran seorang ikhwan, bukan hartawan
Karena kutahu, kekayaan bukanlah pada harta, melainkan pada jiwa
Kudamba dia yang diamnya dzikir, ucapannya menenangkan, dan marahnya tak kan menyakiti
Aku hanya membutuhkan seseorang yang ketika aku jatuh, tangannya terulur
Aku hanya ingin, dia yang menerima apa adanya
Sehingga aku pun bisa setia mendampinginya
Qona’ah dengan pemberiannya
Menjadi makmumnya dalam sujud-sujud panjang di hening malam
Dan meraih surga bersamanya di setiap jengkal perjuangan
Allah, DIA lah saksi atas ingin ini, bahkan apa yang tak cukup kutuliskan di sini
Semoga DIA berkenan, dan menyucikan niat kita
Sehingga, segala yang kita hadapi akan terasa ringan tanpa beban
Aamiin
                               
                   Akhirnya,
                   Ketika kehendakmu tak sejalan dengan kehendakNya
                   Biarkan kehendakNya yang berjalan atas hidupmu
                   Karena kehendakNya adalah kebaikan untukmu
                   Ketika inginmu tak sesuai dengan inginNya
                   Biarkan inginNya menjadi scenario terbaik bagi hidupmu
                   Karena Dia Maha Tahu segala hal tentang dirimu
                   Biarkan tangisan obati kekecewaanmu
                   Bukan kecewa pada Rabb-mu
                   Tapi kecewa pada dirimu sendiri
                   Karena tak mampu berdiri di atas inginNya
                   Hidup harus dijalani secara shalih
                   Sesakit apapun, siap ataupun tidak
                   Karena Rabb-mu tak pernah butuh persetujuanmu atas kehendakNya
Sahhalallahu lanaa...
Wa shallallahu 'ala nabiyyina Muhammad wa 'ala alihi wa shahbihi wasallam

Al Faaqirah Ilallah
@Bilik Kecilku
Rabu, 28 Sya'ban 1433H/18 Juli 2012

Jumat, 13 Juli 2012

Cinta dalam Diam, Mungkin Saja....

Bismillah...
Tulisan ini terinspirasi dari kutipan status seorang ummahat beberapa waktu lalu, walaupun ternyata tulisan berjudul atau bertema sama telah dipublish oleh banyak orang di dunia maya ini, saya hanya ingin mengumpul beberapa faedah dari apa yang pernah saya baca.

Banyak diantara kita yang sudah sering membaca kisah cinta romantis shahabat 'Ali radhiyallahu 'anhu dan Faathimah bintu Muhammad radhiyallahu 'anha. Cinta yang bersemi dalam hening, dalam diam. Tetapi, kadang kita melirik ke dalam diri, bisakah itu terjadi pada diri kita? Kita yang hidup di akhir zaman dengan iman yang secuil dibandingkan iman mereka? Kita dengan kondisi hati yang keras lantaran maksiat? Dan berbagai perbedaan yang tidak sulit menuliskannya dalam sebuah daftar disebabkan banyaknya poin yang menyebabkan kita dan mereka sangat berbeda.

Sabtu, 29 Oktober 2011

Antara Cintaku, Cintamu Dan Cinta-Nya [4 Permasalahan Utama Cinta Asmara]...LANJUTAN- 5

4. Laki-laki dan wanita yang telah saling mencintai tetapi belum mampu menikahi
Ikhwan A: Ustadz, inilah waktu yang ana tunggu-tunggu. Akhirnya ana lulus kuliah dan ana sudah mendapat SIM [Surat Izin Menikah] dari ortu. Hanya saja ustadz,  ana sudah terlanjur jatuh hati dengan seorang akhwat aktifis di kampus. Dia cantik dan putih, IPK-nya cumlaude, gesit dan sering jadi tokoh penting kegiatan-kegiatan di kampus. Akan tetapi yang buat ana agak gusar, dia sama ana berbeda manhaj dalam beragama ustadz. Inilah  yang membuat ana seminggu ini tidak nyeyak tidur.

Antara Cintaku, Cintamu Dan Cinta-Nya [4 Permasalahan Utama Cinta Asmara]...LANJUTAN- 4

3.   Wanita yang cemas menunggu cinta karena pada hakikatnya wanita menunggu

Akhwat A: Ukhti, kemana kepingan pecahan hati kiranya ku bawa? Tiba-tiba saja datang, dan  bersanding dua nama dipertengahan lembaran undangan, tak sanggup aku meneruskan apa yang tereja oleh pandangan mataku. Padahal aku sangat berharap dialah lelaki asing yang pertama kali mendoakan dikeningku.
Akhwat B: anti pernah mengutarakannya?
Akhwat A: aku malu berbalut sungkan ukhti, aku hanya sekedar melempar tatapan harapan ketika berpas-pasan dikampus, diapun seakan-akan menerima getaran isyarat hati dariku dengan segera memalingkan pandangannya. Sudah sekian kali kami salah tingkah jika tak sengaja bertemu. Semakin kuat dugaanku, getaran hatiku hendak bersemayam di relung hatinya, tinggal sekedar menunggu celah kecil pintunya terbuka saja dan ia segera meyusuri gang-gang dan melangkah kedepan pintu rumahku.
Akhwat B: jadi, anti hanya menunggu?

Minggu, 18 September 2011

Antara Cintaku, Cintamu Dan Cinta-Nya [4 Permasalahan Utama Cinta Asmara] -- Bag 3

2. Laki-laki yang bingung mencari cinta, karena pada hakikatnya laki-laki mencari
“ustadz, tolong carikan saya wanita yang cantik, nilainya 9,5, putih-bening, semampai tinggi enak dilihat, shalihah, kalau bicara lembut, hafidzah 30 juz, pintar bahasa arab, qona’ah, terima apa adanya, oya kalau bisa dari keluarga yang punya nama sedikit, jazakallahu khair ustadz!”
Spontan ustadz tersebut menjawab,
“ iya nanti saya carikan, tapi kalau dapat, saya dulu yang maju melamar, saya jadikan yang kedua. Yang kamu cari Itu bidadari dunia”.
Jangan salahkan juga jika ada yang berkomentar dalam hati,
“wah orang ini, sudah mukanya [maaf] agak hancur, bahasa arab ga’ kelar-kelar, ngapal Al-Quran 2 tahun juz 30 aja belepotan, bisnisnya gali lubang melulu, ga ditutup-tutup. Eh, Nyarinya bidadari dunia.. ck..ck..ck.”

Antara Cintaku, Cintamu Dan Cinta-Nya [4 Permasalahan Utama Cinta Asmara] --Bag 2

Empat permasalahan utama masalah cinta asmara
Kami coba jabarkan satu persatu:
  1. Mabuk cinta
“mabuk cinta”, dia bukan seorang pemuda jika belum pernah mendengarnya, bukan pula orang tua berumur jika tidak pernah merasakannya atau hampir sekedar mencicipinya. Dalam bahasa diturunkannya Al-Quran diwakilkan oleh ungkapan “al-’isyq”.
Al-’isyq termasuk kata yang jarang digunakan oleh orang arab oleh karena itu ia masuk dalam berbagai kitab “gharib hadist”. Salah satunya adalah kitab Al-Misbah Al-Munir karya Abul Abbas Al-Hamawi dijelaskan,
عَشِقَ عَشَقًا مِنْ بَابِ تَعِبَوَالِاسْمُ الْعِشْقُ بِالْكَسْرِ
قَالَ ابْنُ فَارِسٍ الْعِشْقُ الْإِغْرَامُ بِالنِّسَاءِ وَالْعِشْقُ الْإِفْرَاطُ فِي الْمَحَبَّةِ
وَرَجُلٌ عَاشِقٌ وَامْرَأَةٌ عَاشِقٌ أَيْضًا.
Al-’isyq dengan kata kerja ‘asyiqo-‘asyaqon dari bab tasrif tabi’a, menggunakan kasroh

Antara Cintaku, Cintamu Dan Cinta-Nya [4 Permasalahan Utama Cinta Asmara]--Bag 1

Kami bukanlah perangkai lirik roman picisan, bukan pula pemanah cinta yang banyak memasang busur dari tulang rusuk kami, bukan pula pengarung deramnya aliran rindu tak halal. Tetapi, kami hanya pengamati pelaku, rentetan alur kisah, buah manis dan tragedi cinta asmara. Kemudian kami melihat ada beberapa hal yang paling sering timbul dipermukaan masalah cinta asmara. Yang paling sering digelisahkan oleh orang-orang yang cerdas. Yang paling sering dibingung oleh orang-orang yang pintar dan yang paling sering dialami oleh pelaku sandiwara cinta asmara yaitu:

Senin, 13 Desember 2010

Seindah Cinta Wanita Perindu Surga

Malam baru mulai memasuki sepertiga bagiannya yang terakhir, seorang lelaki termenung di dalam khalwatnya kepada Allah Ta’ala, sebagian hati dan pikirannya berkecamuk, ucapan tahmid tak henti-hentinya terlafadzkan oleh lisannya, tak terasa ada butiran air yang hangat menetes dari matanya, sungguh ini air mata bahagia.
Dipalingkannya wajahnya kesamping dan menatap wajah istrinya yang sedang terlelap tidur, sungguh wajah yang damai dan paras terindah yang pernah ia temui di dalam hidupnya, diperhatikannya dengan seksama dan pandangan kagum terhadap istrinya, ada suatu hal yang seakan menyesakkan dadanya, suatu ungkapan haru yang teramat dalam, dan berusaha ia untuk semampu mungkin menahan linangan air mata bahagia itu, namun lelaki itu tak mampu dan ia memutuskan untuk mengambil air wudhu demi menghadap ke hadapan Rabb-nya.

Sabtu, 30 Oktober 2010

Jika Kita Memikirkan Ilmu, Niscaya Tidak Separah Ini, Insya Allah

فما في الأرض أشقى من محب … وإن وجد الهوى حلو المذاق

تراه باكيا في كل حين … مخافة فرقة أو لإشتياق

فيبكي إن ناؤا شوقا إليهم … ويبكي إن دنو خوف الفراق

فتسخن عينه عند الفراق … وتسخن عينه عند التلاق والعشق وإن استلذ به صاحبه فهو من أعظم عذاب القلب


Tidak ada di dunia ini yang lebih sengsara daripada seorang pencinta…
Meskipun ia merasakan manisnya cinta…
Kamu lihat dia menangis di setiap waktu…
Karena takut berpisah atau karena rindu…

Ia menangis karena rindu akan jauhnya sang kekasih…
Namun, bila kekasihnya dekat…
Ia menangis karena takut berpisah…

Matanya selalu menghangat ketika terjadi perpisahan…
Matanya pun berkaca-kaca ketika pertemuan itu tiba…
Pelakunya memang merasakan kenikmatan…
Namun, sebenarnya…
Kasmaran itu merupakan siksa yang paling besar di hati…


[ lihat dalam: كتاب الجواب الكافي لمن سأل عن الدواء الشافي , karya محمد بن أبي بكر أيوب الزرعي أبو عبد الله (masyhur dengan nama Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah), hal. 151 ]

Hendaknya kita semua bisa mengambil pelajaran.

—akhukum—

abu muhammad al 'ashri
dikutip dari http://alashree.wordpress.com