Tampilkan postingan dengan label mutiara salaf. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label mutiara salaf. Tampilkan semua postingan

Minggu, 08 Desember 2013

:: BERHENTILAH MENJADI PASIFIS :: (Oleh-oleh Tarbiyah Gabungan)


"Janganlah mencela sahabat2ku. Jk sekiranya ada diantara kalian yang menginfakkan emas sebesar gunung Uhud, niscaya tidak akan mampu menyamai 1 mud dr apa yg mereka infakkan, bahkan tidak jg setengahnya."

Begitulah kira2 Rasulullah shallallahu 'alayhi wasallam bertutur... 
Menuturkan bgmn jarak kita dg sahabat2 beliau ridwanullahi 'alayhim ajma'iin ... 
Membandingkan kadar iman kita dg mereka... 
Kita... Kita tak akan pernah mampu menyamai mereka dlm hal apapun, termasuk pengorbanan. 
Bumi telah menyaksikan darah2 mereka tumpah membasahi tanah di medan jihad. Sedang kita??? Apa yang telah kita korbankan?
Adapun kita, jika belum mampu dg jiwa, kawan..., berkorbanlah waktu, tenaga, pikiran, potensi, harta...
Jika tidak juga, minimal do'a2 kita terlantun utk kejayaan islam dan kemenangan kaum muslimin...

Al kisah...
Pernah suatu ketika, seorang panglima perang akan berangkat bejihad bersama pasukannya. Tetapi sebelum meninggalkan Madinah, beliau mengutus salah seorang komandan perang untuk ke Masjid dan melihat, siapa yang ada di masjid. Lalu datanglah sang komandan melaporkan bahwa tidak ada seorang pun di masjid kecuali Muhammad bin Wasi' rahimahullah (seorang tabi'in yang mulia). Beliau berada di masjid menengadahkan tangan dan mendoakan kemenangan serta kejayaan kaum muslimin. Lalu berkatalah sang panglima, "Sesungguhnya berdo'anya Muhammad bin Wasi' lebih aku sukai daripada seribu pasukan."

Jadi, berhentilah menjadi orang yang pasif dalam dakwah dan perjuangan ini, meski dengan sebait do'a. Jangan cuma menjadi sang pemimpi, bercita2 setinggi langit tetapi tidak ada usaha untuk merealisasikan. Kita...selalu bermimpi duduk berhadapan dengan para sahabat, tabi'in, syuhadaa'...di atas dipan2 terindah di dalam Surga. Sedang kita lupa untuk mencari jalan bagaimana mewujudkannya. Bahkan kita terus saja santai, padahal kita tau, tidak ada diantara kita yang mampu menyamai setengah mud dari infak mereka, karena tak ada di antara kita yang mampu berinfak emas sebesar gunung Uhud. Wallahu waliyyuttaufiq...

Kamis, 27 Juni 2013

Cintailah Ahlul 'Ilmi


Tuntutlah 'ilmu, jika engkau tidak mampu, maka cintailah para ahlul 'ilmi, jika engkau tidak mencintai mereka, janganlah membencinya 
[Wasiat Abu Darda -radhiyallahu 'anhu-]

Menuntut 'ilmu, sudah tidak diragukan lagi hukum wajibnya, bahwa dia adalah sunnah Rasulullah yang sangat utama. Tapi tahukah kita bahwa MENCINTAI AHLUL 'ILMI adalah sebuah sunnah?

Kita mungkin bisa mengingat-ingat kembali kisah 'Abdullah bin 'Abbas yang berguru kepada Zaid bin Tsabit ridwanullahi 'alayhim ajma'in. Dimana pada saat itu Zaid bin Tsabit berada di atas sebuah kendaraan dan Ibnu 'Abbas menuntun kendaraannya. Lalu turunlah Zaid bin Tsabit dan mengatakan bahwa Ibnu 'Abbas lah yang lebih pantas berada di atas kendaraan dan ia yang menuntun kendaraannya (krn Ibnu 'Abbas adalah anak dari paman Rasulullah shallallahu 'alayhi wasallam). Tapi apa yang dikatakan oleh Ibnu 'Abbas? Beliau malah mengatakan bahwa "Seperti itulah Nabi kami mengajarkan kami untuk bersikap kepada para ulama'."

Inilah bukti kecintaan Ibnu 'Abbas kepada para ulama. Maka siapa diri kita yang berani mencela ulama'? menjauhkannya dari ummat? Merasa diri lebih dari mereka?

Ketahuilah bahwa ini adalah bentuk menyepelekan ulama' dan bentuk kebencian kepada ahlul 'ilmi. Maka berhati-hatilah dari memakan bangkai para ulama', sang pewaris para Nabi.
Wallohu a'lam wal musta'an.

Jumat, 21 Juni 2013

SERIAL MENAPAKI JEJAK SALAF DALAM MENUNTUT ILMU #6

ILMU DAN ADAB, ADAB DAN ILMU

Alangkah  indahnya  ilmu  yang  dihiasi dengan  akhlak  mulia  dan  adab  yang  terpuji.  Sebaliknya  ketika  ilmu jauh  dari adab  dan  akhlak  mulia  seolah  ia  bunga  bangkai. Menarik  perhatian  tetapi menyebarkan  bau  busuk  atau  bunga  yang  indah  tapi  berduri.

Ilmu  dan  adab,  adab  dan  ilmu  dua sisi  mata  uang  yang  tidak  bisa  dipisahkan.
Bagaimana  gerangan  api  tanpa  kayu bakar?  Bagaimana  dia  akan  menyala  dan  menerangi??  Demikianlah ilmu  tanpa  adab. Bagaimana pula kiranya tubuh tanpa ruh?? Ia hanyalah bangkai! Demikianlah adab tanpa ilmu.

Kamis, 13 Juni 2013

Beramal Untuk Akhirat


Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata:

Sufyan bin ‘Uyainah rahimahullah berkata, “Kebiasaan para ulama terdahulu adalah menulis nasehat satu sama lain dengan kata-kata semacam ini: Barangsiapa yang memperbaiki hatinya, maka Allah akan memperbaiki kondisi lahiriyahnya. Barangsiapa yang memperbaiki hubungannya dengan Allah, maka Allah akan memperbaiki hubungannya dengan sesama manusia. Barangsiapa yang beramal untuk akhiratnya, maka Allah akan mencukupkan baginya urusan dunianya.”.”

(lihat Mawa’izh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, hal. 33-34)

Senin, 25 Februari 2013

Sudah Bertaqwa-kah Kita???

 Segala puji bagi Allah, Dzat yang paling berhak untuk kita takuti dan tempat kita memohon ampunan. Salawat dan keselamatan semoga terus tercurah kepada teladan terbaik, seorang hamba yang telah diampuni dosa-dosanya namun senantiasa beristighfar dan bertaubat kepada-Nya minimal tujuh puluh kali setiap harinya, semoga keselamatan juga terlimpah kepada para sahabatnya, dan segenap pengikut setia mereka. Amma ba’du.

Taqwa merupakan sebab keberuntungan. Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Bertaqwalah kalian kepada Allah, mudah-mudahan kalian beruntung.” (QS. al-Baqarah: 189 lihat juga QS. Ali Imran: 130 dan 200). Ini artinya, barangsiapa yang tidak bertaqwa kepada Allah maka dia tidak menempuh jalan yang akan mengantarkan dirinya menuju keberuntungan (lihat Taisir al-Karim ar-Rahman, hal. 88).

Jadilah Manusia Langit

Siapakah yang kami maksud dalam judul di atas sebagai "Manusia Langit"? Mereka adalah yang terkenal di kalangan penghuni langit sebagai ahli ibadah, mukhlishin, dan ahli taqwa. Meskipun di dunia, dia adalah manusia yang dipicingkan mata ketika memandangnya, manusia dengan pakaian tertambal, dan manusia yang lisan manusia lain tidak lepas dari mencelanya disebabkan keterasingannya.
Mereka-lah yang gemar menyembunyikan amalan mereka, berpura-pura terkena flu ketika orang lain melihatnya menangisi dosa-dosanya, dan marah kepada manusia yang menyebut-nyebut amalan kebaikannya.

Jumat, 27 April 2012

Mutiara Salaf Tentang 'Ilmu

Yahya bin Abi Katsir rahimahullahu ta’ala berkata,“Ilmu tidak akan diperoleh dengan tubuh yang dimanjakan (dengan santai/tidak bersungguh-sungguh).” 
(Diriwayatkan oleh Ibnu ‘Abdil Barr dalam Jaami’ Bayaanil ‘Ilmi wa Fadhlihi I/385, no. 554)

Kamis, 14 Oktober 2010

Bersabarlah...Sampai Waktunya Tiba


أخلو به فأعف عنه تكرما خوف الديانة لست من عشاقه

كالماء في يد صائم يلتذ به ظمأ فيصبر عن لذيذ مذاقه

Aku berdua dengannya, kujaga kehormatan untuk memuliakannya…

Karena takut kerendahan hingga aku tercampakkan dari cintanya…

Bagaikan air di tangan orang yang berpuasa untuk mencairkan dahaga…

Lalu ia bersabar tuk nikmati kesegarannya….


[lihat dalamكتاب الجواب الكافي لمن سأل عن الدواء الشافي /Jawabul Kaafi li-man Sa-a-la ‘anid-dawaa`i asy-Syaafi/, Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah : 157 ]

Sumber:http://alashree.wordpress.com/category/cinta/

Rabu, 13 Oktober 2010

Wahai Orang Berilmu....


Seorang dari salafush shalih berwasiat kepada orang berilmu,

‘Wahai orang berilmu, amalkan ilmumu, berikan kelebihan hartamu, dan tahanlah kelebihan perkataanmu kecuali sedikit pembicaraan, akan bermanfaat bagimu di sisi Tuhanmu.

Wahai orang berilmu, sesuatu yang kamu ketahui tetapi tidak kamu amalkan adalah pemotong argumentasi dan alasanmu di sisi Tuhanmu ketika kamu menemui-Nya.

Wahai orang berilmu, taat kepada Allah yang diperintahkan kepadamu sebenarnya telah menyibukkanmu dari maksiat kepada Allah yang dilarang untukmu.

Wahai orang berilmu, janganlah kamu menjadi orang kuat yang meneropong perbuatan orang lain, namun kamu sendiri manusia lemah dalam mengerjakan (suatu amal) untuk dirimu sendiri.

Wahai orang berilmu, janganlah apa yang dimiliki orang lain, membuatmu lupa terhadap apa yang kamu miliki.

Wahai orang berilmu, ajaklah bicara para `ulama, bergaulah dengan mereka dan dengarkanlah perkataan mereka dan janganlah kamu menentangnya.

Wahai orang berilmu, agungkanlah ulama karena ilmu mereka dan janganlah kamu menghormati orang-orang bodoh karena kebodohan mereka, namun jangan menjauhi mereka, tetapi dekatilah dan ajarilah mereka.

Wahai orang berilmu, janganlah kamu membicarakan suatu hadits di suatu majelis sehingga kamu betul-betul memahaminya, dan janganlah menjawab pertanyaan orang hingga engkau tahu persis apa yang diucapkannya kepadamu.

Wahai orang berilmu, janganlah kamu tertipu oleh Allah dan jangan pula kamu tertipu oleh manusia. Tertipu oleh Allah maksudnya meninggalkan perintah-Nya, dan tertipu oleh manusia maksudnya mengikuti hawa nafsu mereka. Takutlah kepada Allah dalam semua hal yang Dia mengajakmu takut terhadap diri-Nya, dan hindarilah manusia karena fitnah mereka.

Wahai orang berilmu, cahaya siang tidaklah sempurna kecuali dengan matahari, begitu pula hikmah tidak sempurna kecuali dengan menaati Allah subhanallahu wa ta’ala.

Wahai orang berilmu, tanaman tidak baik kecuali dengan air dan tanah, begitu pula dengan iman tidak baik kecuali dengan ilmu dan amal.

Wahai orang berilmu, setiap musafir haruslah berbekal, dan ia dapatkan bekalnya apabila ia dibutuhkannya, begitu pula dengan setiap orang yang beramal, di akhirat akan ia dapatkan apa yang telah diperbuatnya di dunia apabila ia butuhkan amal perbuatannya.

Wahai orang berilmu, Apabila Allah subhanallahu wa ta’ala berkehendak mendorongmu dalam beribadah kepadaNya, ketahuilah bahwa Dia ingin menampakkan karamah-Nya terhadapmu, maka janganlah kamu mengalihkannya kepada selainNya, sehingga kamu tinggalkan kemuliaanNya dan malah kamu dapatkan kehinaan hidup.

Wahai orang berilmu, Jika kamu memindahkan batu atau besi, itu lebih ringan bagimu daripada berbicara kepada orang yang tidak menerima pembicaraanmu, perumpamaan orang yang berbicara kepada orang yang tidak menerima pembicaraannya adalah seperti orang yang memanggil orang mati dan meletakkan hidangan untuk penghuni kubur”.

(Sunan ad-Darimiy; dalam bab: Menghormati Ilmu; Lidwa Pusaka)

http://abuzuhriy.com/